Jangan pernah bosan, baca blog gue tentang pertemanan. Ya bisa dibilang tidak beruntung bisa dibilang beruntung menjadi gue.
Kadang gue merasa tidak beruntung, karena gue gak punya teman yang boleh dibilang long lasting. Semua berakhir di jarak dan waktu, sebenarnya ada juga berakhir di”pemanfaatan”.
Tapi gue merasa beruntung karena hubungan pertemanan gue bersifat tambal sulam. Boleh dibilang gue tidak pernah merasa kesepian karena gak ada teman. Atau boleh dibilang gue beruntung karena gue tidak perlu mencari orang untuk berteman dengan gue. Padahal boleh dibilang sifat gue yang sekarang cenderung hostile (baca: kurang ramah), dan semakin lama semakin tidak memperdulikan perasaan orang lain (baca: ceplas ceplos) berbeda dengan jaman dahulu kala, yang jangankan mau nyakitin, mau nyela aja mikir dulu seribu kali.
Tapi yang jelas, sekarang ini gue jadi lebih apa adanya. Artinya kalau gue jutek ya... gue iklas kok juteknya, gue galak gue iklas kok galaknya. Kalau gue ketawa, gue ramah, gue juga iklas kok. Gak ada yang gue tutup tutupin.
Mungkin untuk beberapa orang gak tahan dengan sikap gue seperti itu, tapi sekali lagi gue bilang beruntungnya gue, ada orang orang yang tahan dengan sikap gue ini.
Ya entah ini keberuntungan gue atau tidak, tapi keberuntungan gue ini berefek pada kantong. Maksudnya kantong lemak.
Menghabiskan waktu bersamanya berefek timbunan lemak jangka panjang (selain bantuan pil KB itu tentunya yang membuat gue tidak bisa menahan lapar!!!!). FYI, terinspirasinya gue menulis jurnal ini, karena tadi abis periksa pasien gue nimbang dan damned masih bertahan disitu juga tuh timbangan.
Kembali ke dirinya.
Kadang gue kesel banget sama dia yang suka nyerocos saat orang lagi cerita. Atau belagak maskulin tapi kalau kemana mana minta ditemenin. Atau nyolot ngikutin gue (berasa hanya gue yang punya hak nyolot... hahahaaa). Atau melenguh eh mengeluh kayak anak sapi eh salah anak kecil. Atau ngomong sebel sama orang tapi didepan orangnya diem aja, pura pura.
Cuma ya, dipikiri pikir gue kok nyaman ya menghabiskan waktu bersamanya. Walaupun ujung ujungnya adalah kantong dompet dan kantong lemak yang menjadi korban. Tapi momen yang gue alamin berasa banget (terutama ya itu... berasa baju gue sekarang udah pada gak muat... kakakkkkk). Efek yang lain, hmmm kadang kami suka gak sadar kalau umur sudah melewati 25, kelakuan berasa kayak anak kemarin sore. Suka ngomentarin lebai hal hal yang gak penting dikomentarin. Mentertawakan kejadian kejadian lucu disekamir kami, tentunya tanpa harus diketahui oleh pelaku kejadian itu. Ya semuanya kami jalanin.
Banyak kemiripan sih di antara kami, walaupun banyak juga perbedaan (terutama status, gue masih saja menjombloooooo). Tapi boleh dibilang dalam hampir 27 tahun kehidupan gue, gue belum pernah membuka diri gue (walaupun gue memang aslinya extrovert) seperti gue membuka diri gue kepadanya. Gue tidak pernah menutupi sih kepada yang lain, hanya saja tidak pernah memaparkan seterbuka itu.
Btw kami punya kalimat sakti yang mungkin bisa dibilang yang menghubungkan kami tanpa harus berbicara panjang lebar, cukup saling memandang dan selanjutnya tertawa cekikikan...
Are you thinking what I’m thinking?????